Aqidah merupakan akar bagi setiap perbuatan manusia. Manusia yang lisannya menyatakan tunduk dan patuh secara sukarela pada kehendak Allah, pasti dampak perbuatannya akan bermanfaat bagi manusia lain yang ada disekitarnya. Contohnya Nabi Ibrahim AS. Ia pernah menambatkan keyakinan bahwa patung berhala adalah tuhan. Tetapi setelah uji coba penghancuran tuhan patung berhala dengan tangannya sendiri, ia menolak untuk meyakini bahwa patung berhala adalah tuhan. Ketika melihat bintang di malam hari, ia pun menambatkan bahwa bintang itu tuhannya.
Tetapi ketika bintang itu tenggelam, ia pun menolak untuk meyakini bahwa bintang itu tuhannya. Ketika melihat bulan terbit di sore hari, ia pun menambatkan keyakinan bahwa bulan itu tuhannya. Tetapi ketika bulan pun tenggelam, ia menolak untuk meyakini bahwa bulan itu tuhannya.
Tetapi ketika bintang itu tenggelam, ia pun menolak untuk meyakini bahwa bintang itu tuhannya. Ketika melihat bulan terbit di sore hari, ia pun menambatkan keyakinan bahwa bulan itu tuhannya. Tetapi ketika bulan pun tenggelam, ia menolak untuk meyakini bahwa bulan itu tuhannya.
Ketika melihat matahari terbit di pagi hari, ia meyakimi bahwa matahari itu tuhannya. Tetapi ketika matahari pun tenggelam, ia menolak untuk meyakini bahwa matahari itu tuhannya. Akhirnya ia menyatakan keyakinan bahwa ia hanya akan tunduk dan patuh pada satu kekuatan yang menciptakan langit, bumi , matahari, bulan, bintang, dan bebatuan.
Keyakinan hati Nabi Ibrahim as bahwa tidak ada Tuhan (seperti patung, bintang, bulan, matahari, dan sejenisnya) selain Allah merupakan aqidah. Konsekuensi dari aqidah tersebut ialah Nabi Ibrahim diuji oleh Allah dengan pilihan: menyembelih anak kesayangannya (yang bernama Isma’il) atau membiarkannya hidup. Anak adalah simbol harta yang paling berharga yang dimiliki manusia. Apakah Ibrahim akan memilih Allah (seperti janjinya hanya akan tunduk dan patuh pada kehendak Allah) dengan cara menyembelih Isma’il atau akan memilih hawa nafsunya dengan cara membiarkan Isma’il hidup? Ternyata Ibrahim lebih memilih Allah daripada hawa nafsunya sendiri.
Itulah gambaran kedudukan aqidah dalam ajaran Islam, yaitu sebagai akar setiap perbuatan manusia. Apabila akar pohon perbuatan manusia itu kokoh, maka pohon perbuatan manusia itu akan berbuah dan tahan dari berbagai tiupan angin cobaan. Sebaliknya apabila akar pohon perbuatan manusia itu rapuh atau bahkan tanpa akar sama sekali, maka buah perbuatan manusia itu tidak bermakna dan mudah roboh oleh tiupan godaan angin sepoi-sepoi sekalipun. Perbuatan-perbuatan tersebut dinamai syari’ah.


Posting Komentar
tinggalkan komentar kalian disini